Rabu, 23 Maret 2016

Haruskah aku membuatkannya sebuah judul?
Pagi ini,sepertinya bunga-bunga . Kukayuh sepedaku dengan mantap.Kutebarkan senyum kepada setiap orang yang kutemui di jalan, meskipun tidak semuanya kukenal. Aku pikir, bukankah sebuah senyuman itu layaknya penyakit batuk yang mudah menular?  Yeah, meskipun tidak semua orang menyadari setidaknya aku sudah melakukan satu hal yang baik hari ini. Aku menyusuri gang-gang kecil namun padat akan kendaraan yang lalu lalang. Aku melewati gang dimana bengkel itu berada, dan kulihat Bapak Bengkel sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. “Selamat pagi, Sir !” aku terkejut menyadari begitu kerasnya sapaanku sehingga orang-orang disekitar menoleh menatapku. Tapi aku tidak peduli, karena Bapak Bengkel itu membalasnya dengan keras pula. “Selamat pagi, Nona!”
Aku terus mengayuh pedal sepedaku hingga aku bertemu dengan temanku yang sedang duduk di atas jok sepeda motor memainkan ponselnya. “Halo Oktaaa” aku menyapa dengan keras, tetapi tidak sekeras saat aku menyapa Bapak Bengkel tadi. Dan kau tahu, bagaimana reaksinya? Dia hanya menjawab “Iya” dengan lesu. Oh, apa yang terjadi padamu Okta? Bukankah kau sedang menunggu kekasihmu seperti biasanya? Bukankah seharusnya itu momen yang sangat ditunggu-tunggu?Aku hanya berpikir, kekasih macam apa yang rela membuat perempuan menunggu? Aku sering melihatnya di tempat yang sama dengan model kerudung yang sama – oh, ini tidak penting – dan di waktu yang sama. Sepagi ini. Aku terus bicara sendiri mengenai Okta dan kekasihnya sampai-sampai aku hampir tertabrak sepeda motor yang melaju dari arah yang berlawanan. Sebenarnya ke mana tujuanku pagi ini? Tenanglah, perjalananku belum usai, aku akan menemui si Tiang Listrik itu, jadi biarkanlah aku (masih) menikmati perjalananku.

Bersambung.
Surabaya, 18 Maret 2016

Selasa, 16 Februari 2016

Si Hijau yang Kaya Akan Manfaat*

Manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam kehidupannya antar satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Menjadi makhluk sosial tentunya memiliki tujuan untuk saling melengkapi kebutuhan bersama. Selain melengkapi kebutuhan bersama, manusia juga termasuk makhluk individu. Dimana kebutuhan mereka juga tanggungjawab mereka sendiri.
Salah satu kebutuhan individu yaitu makan. Makan menjadi faktor utama dalam kebutuhan manusia. Berbicara mengenai makan, tentunya tidak terlepas dari istilah makanan. Makanan sering dikaitkan dengan istilah empat sehat lima sempurna, yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur mayur, buah-buahan, dan susu.
Sayur mayur salah satunya, memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia. Mereka yang berwarna hijau terutama, memiliki kandungan kalsium yang bermanfaat untuk membangun tulang yang kokoh, contohnya sawi, bayam, kangkung, dan brokoli.
Namun, sayangnya kini tidak banyak masyarakat yang enyadari akan pentingnya sayur bagi tubuh kita. Atau terkadang banyak juga masyarakat yang menginginkan sayur, namun karena beberapa faktor menghambat mereka untuk bisa mendapatkannya.
Salah satu faktor tersebut adalah aspek lokasi tempat tinggal. Masyarakat yang tinggal di perkotaan, kemungkinan kebanyakan jarang mengonsumsi sayuran dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di pedesaaan. Hal ini terjadi karena, di perkotaan untuk mendapatkan sayuran lebih sulit dibandingkan di desa, atau kalaupun ada harganya tidak seperti di desa.
            Namun adanya kendala di atas seharusnya bisa membuat kita untuk bisa berpikir lebih kreatif. Sebenarnya, tanaman sayuran tidak memerlukan lahan yang luas untuk tumbuh. Jadi, masyarakat yang tinggal di perkotaan bisa memanfaatkan lahan kecil di samping rumah mereka untuk ditanami sayuran. Mereka dapat menanam sayuran seperti cabai, tomat, kangkung, bayam dan sebagainya dengan media dalam pot, polybag, ataupun media tanam lainnya yang sekiranya efektif digunakan. Jika lahan kita memang benar-benar sempit kita juga bisa membuat media tanam tanaman sayuran dengan cara dibuat seperti rak-rak yang tersusun ke atas. Cara ini bisa menjadi alternatif untuk tetap berkreasi. Meskipun banyak jalan untuk menanam sayuran di areal sempit kita juga  jangan sampai lupa untuk tetap memerhatikan cara rawat tanaman itu sendiri, misal intensitas penyiraman, suhu, kelembapan itu tergantung masing-masing tanaman.
            Sebenarnya tidak hanya tubuh kita saja yang mendapatkan manfaat dari kita mengonsumsi sayuran. Dengan mulai mencoba untuk menanam sayuran di lingkungan rumah kita sendiri secara tidak langsung kita juga turut andil dalam menjaga kelestarian lingkungan kita. Apalagi sudah beberapa tahun terakhir ini maraknya istilah global warming atau disebut juga dengan pemanasan global, justru hal ini seharusnya mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk menjaga alam kita yaitu salah satunya dengan menanam sayuran.
            Manfaat lain yang diperoleh dari menanam sayuran selain hal di atas yaitu dalam nilai estetika. Dengan memanfaatkan lahan yang ada kita bisa berkreasi dalam tata letak atau pun bentuk media untuk tanaman sayuran. Hal ini bisa menambah nilai estetika bagi kita, rumah akan terkesan sejuk, sejauh mata memandang terhampar warna hijau, dan tentunya akan menambah rasa senang untuk kita sendiri. Terlebih jika ini dipraktikan di wilayah perkotaan akan memberikan kesan yang lebih baik dan sangat bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
            Secara finansial pun menanam sayuran dengan memanfaatkan lahan sekitar juga sangat membantu. Kita bisa berhemat dalam pengeluaran kita. Sayuran biasanya diproduksi dari daerah pedesaan atau dari pegunungan, jika sayuran tersebut didistribusi ke daerah perkotaan otomatis akan terjadi perbedaan harga yang lumayan tidak sedikit mengingat tidak mudahnya mengakses tanaman sayuran di perkotaan.
            Selain memberi manfaat dalam bidang kesehatan, lingkungan, nilai estetika, dan finansial yang terakhir yaitu dalam bidang pedagogi atau pendidikan. Kita bisa menanamkan jiwa cinta lingkungan kepada keluarga kita melalui gerakan menanam sayuran di sekitar lingkungan kita. Dengan mengonsumsi sayuran dari hasil tanaman kita sendiri tentunya akan memberikan rasa kepuasan tersendiri bagi kita. Kita juga bisa meluangkan waktu bersama keluarga untuk merawat tanaman sayuran secara bersama-sama.

Apa pun yang kita lakukan pasti akan kembalinya kepada diri kita sendiri, jika kita melakukan hal yang baik, kembalinya pada kita sendiri bukan?! Oleh karena itu, mari kita lakukan hal-hal kecil yang sepertinya terlihat sepele tetapi memberikan manfaat yang besar dalam lingkungan kita salah satunya memanfaatkan lahan sempit untuk berkebun. Mari kita memulai menanamkan jiwa cinta lingkungan dari diri sendiri, keluarga, dan syukur bisa bisa bermanfaat untuk orang lain.

*Artikel ini diikutsertakan dalam seleksi masuk LPM Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya 2014. Alhamdulillah lolos ^_^

Kamis, 21 Januari 2016

Cerita dari Hujan


Aku percaya bahwa hujan selalu memberikan kenangan yang tak terlupakan kepada setiap orang. Entah saat sendirian di rumah dengan suasana hujan yang mengerikan, ketika kelas telah usai dan kau mendapati hujan turun di sekolah sedangkan kau tidak membawa jas hujan sehingga terpaksa menunggu hujan reda, atau ketika kau sedang dalam perjalanan dan singgah di suatu tempat untuk menunggu hujan berhenti, atau pun cinta seorang petani yang rela pulang dalam keadaan basah kuyup dari sawah. Semuanya pasti punya cerita tentang hujan. Tentang nikmat Allah yang berasal dari langit.
Aku teringat dengan dengan kenanganku dengan hujan dulu saat duduk di bangku SD. Dulu waktu aku kelas empat, aku lebih pemberani daripada aku saat kelas enam. Suka dengan tantangan. Tidak takut dengan hal-hal baru.
Saat itu ceritanya, aku, Dik Umi, dan Ria bersepeda dengan sepeda masing-masing pergi ke tempat fotokopi di tentangga desaku. Dulu, saat zamanku masih SD, tempat fotokopi ataupun warnet belum ada di desaku. Meskipun sampai sekarang pun sebenarnya masih sangat jarang juga. Jadi, kalaupun ada tugas untuk mengopi buku, ataupun mencari bahan-bahan untuk kerajinan terpaksa harus ke desa lain untuk mendapatkannya.
Saat kami hendak pulang sudah nampak dari kejauhan awan menghitam, angin telah menggoyang-goyangkan pepohonan, menjatuhkan dedaunan di sepinggir jalan, dan membikin manusia serba cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kami pun dengan cepat mengayuh sepeda supaya segera sampai rumah terhindar dari hujan. Tapi Allah berkehendak lain, di tengah jalan tiba-tiba air dengan keras menghujam tubuh kami. Kami pun menepi di bawah pohon mangga. Begitu deras hujan saat itu, dan petir sesekali menyambar dengan berpindah-pindah tempat. Kalau kami memutuskan untuk lanjut mengayuh sepeda dan menerobos hujan, ketika sampai rumah pasti kami akan kena damprat dari orang tua masing-masing. Lebihnya, Ria, yang lebih muda satu tahun dariku dan Dik Umi, sangat takut dan menangis ketika mendengar petir menggelegar di angkasa. Jadi kami putuskan untuk singgah di rumah sederhana yang tak jauh dari pohon mangga pinggir jalan.
Syukurlah, pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri yang ramah. Kami disambut sangat ramah oleh mereka. Kami pun dibuatkan teh dan disuguhi makanan kecil yang cukup menghibur kami. Mereka memberi nasehat kalau hujan sedang turun sedangkan masih dalam perjalanan, lebih baik bersinggah di suatu tempat demi alasan keamanan. Jangan takut untuk berhenti di rumah orang. Selagi kita tidak melakukan kesalahan, kenapa harus takut?
Hujan semakin deras dan petir semakin sering muncul, Ria pun masih saja menangis karena ketakutan. Dia takut kalau hujan akan terus-terusan dan tidak bisa pulang bertemu ibunya. Aku, Dik Umi, dan sepasang suami istri itu menenangkannya supaya berhenti menangis. Untuk menghiburnya, sang suami bercerita banyak hal bahkan dia juga memberikan lelucon supaya kami tertawa. Sejenak melupakan derasnya hujan saat itu. Dia juga memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar pelajaran. Ternyata, dia dalah seorang guru di salah satu sekolah dasar di daerahku.
Tak terasa waktu telah berjalan cepat. Tanpa kami sadari, hujan telah reda. Menyisakan rintik-rintik kecil. Kami pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih sudah menerima kami. Terima kasih atas cerita dan pelajaran yang telah diberikan. Lantas, kami pun mengayuh sepeda kami dengan cepat menuju rumah masing-masing.
Keesokan harinya saat di sekolah, aku bertemu dengan Dik Umi yang satu kelas denganku. Bertanya apakah dia dimarahi oleh Bapaknya gara-gara kejadian kemarin sore. Dik Umi mengiyakan pertanyaanku. Begitu pun dengan Ria. Berbeda dengan mereka, Bapakku tidak marah sekali pun denganku. Karena aku ceritakan semuanya ke Bapak. Bapak malah bangga padaku. Itu adalah keputusan yang tepat, disaat kita tengah terjepit jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada orang lain. Bagusnya, kita telah menjalin persaudaraan dengan mereka, menambah pegalaman dan memberikan pelajaran yang tak ternilai harganya.
Sejak saat itu, setiap di jalan dan melintas di depan rumah sepasang suami itu aku selalu tersenyum. Berkata dalam hati, terima kasih atas pengalaman saat itu. Sampai saat sekarang pun aku belum mampir ke rumahnya. Entahlah, mereka masih mengingatnya atau tidak, karena kini mereka telah beranjak di masa tua. Yang jelas, aku akan selalu mengingatnya dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Bukankah, Allah selalu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan?

Palur, Kebonsari, Madiun 2004.

Senin, 16 November 2015

Cerita dari Gerimis

Gerimis mengundang

Gerimis menggenang

Gerimis mengundang tapi hujan tak datang

Gerimis menggenang air pun tetap tenang

Gerimis mengenang

Dan kau terbuai

Gerimis…


Ah… sudahlah. 

Selasa, 02 Juni 2015

Dear Sora,


Sabtu, 27 Desember 2014
            Sejak sore tadi langit mendung masih menaungi langit kota Surabaya, akankah hari ini akan hujan lagi? Seperti hari-hari sebelumnya, Kota Surabaya diguyur oleh tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit itu. Siang terasa sangat panas. Meskipun langit gelap dan hawa panas memburu kami dalam setiap aktivitas, namun pada kenyataannya tetesan-tetesan air dari langit itu tak kunjung tiba sampai malam ini. Yang kudengar hanya suara gemericik tetesan air kecil yang ribut menimpa genteng-genteng bangunan gedung di samping asrama.
            Kurang lebih dua belas jam yang lalu dan hari-hari sebelumnya, canda tawa, suara ejekan, suara keluhan karena kelaparan, dan semuanya terekam jelas oleh fikiranku dan kamar ini menjadi saksi bisu semua itu. Ya, Nada, Ikrima, dan Mariya telah kembali ke rumah masing-masing. Menikmati liburan Ujian Semester Ganjil tahun ini. Sementara aku masih setia dengan kamar 31 ini. Sebenarnya ada hal penting yang harus aku selesaikan besok Senin disini, dan karena telah aku pertimbangkan matang-matang aku memutuskan untuk tinggal di asrama sampai hari Selasa depan.
            Tak terasa, empat bulan sudah aku di Surabaya. Meskipun terkadang perlu bolak balik Surabaya-Madiun sebagai pelipur rindu akan kampung halamanku tercinta dan tentunya kelurga kecilku yang menanti kedatanganku, itu semua tak menjadi masalah bagiku. Semuanya, mulai dari kegiatan di asrama, proses kuliah, kegiatan di luar kampus, petualanganku menjajaki dunia Wonocolo dan sekitarnya, dan bahkan bagaimana diriku beradaptasi dengan kehidupan baru disini, akan menjadi hal tersendiri buatku. Aku tidak ingin melupakannya dan tidak ingin semuanya berlalu begitu saja. Maka dari itu, aku ingin semua itu terukir jelas dan abadi dalam pikirku dan tulisanku.
            Sebenarnya, aku tahu aku jarang menuliskan hari-hari yang telah aku lalui di buku harianku. Aku menyesal, aku ingin berubah, aku pun berubah dan mengulanginya lagi. Seperti itu seterusnya. Sungguh cerobohnya diriku, betapa tidak disiplinnya diriku. Tapi buat apa aku menyalahkan terus diriku, lebih baik aku mulai sekarang benar-benar take action. Please, aku tahu aku bisa, aku tahu aku memiliki kemampuan yang lebih tentang hal kepenulisan. So, aku yakin aku bias asalkan aku sungguh-sungguh dan yakin. Just believe it if I can do it, go for that things I want, keep on it. Yes I can.
           
            Entah dari mana munculnya ide itu, tiba-tiba terpikir olehku untuk menuliskan apa yang telah aku tonton. Karena aku suka nonton film, aku banyak mendapatkan pelajaran dari film-film yang aku tonton. Aku percaya, setiap film atau apapun itu pasti ada misi yang ingin diutarakan meskipun itu secara tersirat maupun secara tersurat. Sebagai bentuk rasa syukur juga, dengan benda di tanganku ini, aku ingin menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat buatku. Aku tidak ingin karena benda ini aku malah terlena dengan dunia, lupa akan mimpi-mimpiku selama ini, menjadi penulis. Ini akan jadi alat untukku, untuk belajar menulis dengan cara rutin aku menulis pengalamanku disini. Dan bisa juga sebagai sarana untuk mengembangkan bahasa inggrisku, menjadi mahasiswa yang seutuhnya dan membanggakan semua orang yang pernah mengenalku dan kusayangi.
            Malam minggu ini, meskipun tidak semua penghuni asrama pulang suasana asrama sepi karena memang tidak banyak yang masih tinggal di asrama, termasuk aku. Malam minggu ini kuhabiskan waktuku untuk menonton film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Langsung saja, karena sudah larut dan karena besok aku ada janji dengan Tyo untuk bersepeda bareng ke Taman Bungkul jam lima pagi, maka aku harus bangun pagi-pagi, tanpa panjang, lebar, kali tinggi soalnya kalau disimpulkan jadi volume benda ruang balok. Dah ah, to the point, dari film itu aku dapat pelajaran bahwa meskipun kita kuliah, menempuh pendidikan selama empat tahun demi menggaet gelar sarjana, itu semua tak kan berarti di mata masyarakat kalau kita tak punya pekerjaan alias menganggur. Karena salah satu tujuan kita mendapatkan gelar sarjana adalah untuk sebuah pekerjaan dan pekerjaan mengantarkan kita menuju kehidupan kita yang lebih baik. Karena pekerjaan bisa menghasilkan uang dan uang akan mencukupinya. Tapi, tentu saja semuanya tidak bisa dinilai dengan uang.
            Di film tersebut juga menggambarkan bagaimana kehidupan kota di Indonesia, dan aku pikir salah satunya yaitu di Jakarta. Tidak mudah hidup di kota. Kota menawarkan seribu pilihan, jadi orang yang baik atau bukan. Betapa hiruk pikuknya perkotaan, kemacetan kendaraan yang tak akan pernah berhenti. Sesaknya suasana pasar, dan tak lupa pun, dengan pencopet.
            Pendidikan itu penting. Meskipun begitu, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan, mereka yang telah belajar mengaji, tahu ilmu agama, tahu ilmu sholat, tahu bahkan hafal di luar kepala pancasila dan pembukaan UUD 1945 tidak menutup kemungkinan untuk berpotensi menjadi orang yang berkelakuan menyimpang, menajadi pencuri, pencopet bahkan koruptor sekaligus. Intinya adalah ilmu dan iman itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan penting. Itulah Indonesia.
23.25 PM Surabaya.
Semangat menulis, kawan !!!