Sabtu, 27 Desember 2014
Sejak sore tadi langit mendung masih
menaungi langit kota Surabaya, akankah hari ini akan hujan lagi? Seperti
hari-hari sebelumnya, Kota Surabaya diguyur oleh tetesan-tetesan air yang jatuh
dari langit itu. Siang terasa sangat panas. Meskipun langit gelap dan hawa
panas memburu kami dalam setiap aktivitas, namun pada kenyataannya
tetesan-tetesan air dari langit itu tak kunjung tiba sampai malam ini. Yang
kudengar hanya suara gemericik tetesan air kecil yang ribut menimpa
genteng-genteng bangunan gedung di samping asrama.
Kurang lebih dua belas jam yang lalu
dan hari-hari sebelumnya, canda tawa, suara ejekan, suara keluhan karena
kelaparan, dan semuanya terekam jelas oleh fikiranku dan kamar ini menjadi
saksi bisu semua itu. Ya, Nada, Ikrima, dan Mariya telah kembali ke rumah
masing-masing. Menikmati liburan Ujian Semester Ganjil tahun ini. Sementara aku
masih setia dengan kamar 31 ini. Sebenarnya ada hal penting yang harus aku
selesaikan besok Senin disini, dan karena telah aku pertimbangkan matang-matang
aku memutuskan untuk tinggal di asrama sampai hari Selasa depan.
Tak terasa, empat bulan sudah aku di
Surabaya. Meskipun terkadang perlu bolak balik Surabaya-Madiun sebagai pelipur
rindu akan kampung halamanku tercinta dan tentunya kelurga kecilku yang menanti
kedatanganku, itu semua tak menjadi masalah bagiku. Semuanya, mulai dari
kegiatan di asrama, proses kuliah, kegiatan di luar kampus, petualanganku
menjajaki dunia Wonocolo dan sekitarnya, dan bahkan bagaimana diriku
beradaptasi dengan kehidupan baru disini, akan menjadi hal tersendiri buatku.
Aku tidak ingin melupakannya dan tidak ingin semuanya berlalu begitu saja. Maka
dari itu, aku ingin semua itu terukir jelas dan abadi dalam pikirku dan
tulisanku.
Sebenarnya, aku tahu aku jarang
menuliskan hari-hari yang telah aku lalui di buku harianku. Aku menyesal, aku
ingin berubah, aku pun berubah dan mengulanginya lagi. Seperti itu seterusnya.
Sungguh cerobohnya diriku, betapa tidak disiplinnya diriku. Tapi buat apa aku
menyalahkan terus diriku, lebih baik aku mulai sekarang benar-benar take action.
Please, aku tahu aku bisa, aku tahu aku memiliki kemampuan yang lebih tentang
hal kepenulisan. So, aku yakin aku bias asalkan aku sungguh-sungguh dan yakin.
Just believe it if I can do it, go for that things I want, keep on it. Yes I
can.
Entah dari mana munculnya ide itu,
tiba-tiba terpikir olehku untuk menuliskan apa yang telah aku tonton. Karena
aku suka nonton film, aku banyak mendapatkan pelajaran dari film-film yang aku
tonton. Aku percaya, setiap film atau apapun itu pasti ada misi yang ingin
diutarakan meskipun itu secara tersirat maupun secara tersurat. Sebagai bentuk
rasa syukur juga, dengan benda di tanganku ini, aku ingin menggunakannya untuk
hal-hal yang bermanfaat buatku. Aku tidak ingin karena benda ini aku malah
terlena dengan dunia, lupa akan mimpi-mimpiku selama ini, menjadi penulis. Ini
akan jadi alat untukku, untuk belajar menulis dengan cara rutin aku menulis pengalamanku
disini. Dan bisa juga sebagai sarana untuk mengembangkan bahasa inggrisku,
menjadi mahasiswa yang seutuhnya dan membanggakan semua orang yang pernah
mengenalku dan kusayangi.
Malam minggu ini, meskipun tidak
semua penghuni asrama pulang suasana asrama sepi karena memang tidak banyak
yang masih tinggal di asrama, termasuk aku. Malam minggu ini kuhabiskan waktuku
untuk menonton film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Langsung saja, karena sudah
larut dan karena besok aku ada janji dengan Tyo untuk bersepeda bareng ke Taman
Bungkul jam lima pagi, maka aku harus bangun pagi-pagi, tanpa panjang, lebar,
kali tinggi soalnya kalau disimpulkan jadi volume benda ruang balok. Dah ah, to
the point, dari film itu aku dapat pelajaran bahwa meskipun kita kuliah, menempuh
pendidikan selama empat tahun demi menggaet gelar sarjana, itu semua tak kan
berarti di mata masyarakat kalau kita tak punya pekerjaan alias menganggur.
Karena salah satu tujuan kita mendapatkan gelar sarjana adalah untuk sebuah
pekerjaan dan pekerjaan mengantarkan kita menuju kehidupan kita yang lebih
baik. Karena pekerjaan bisa menghasilkan uang dan uang akan mencukupinya. Tapi,
tentu saja semuanya tidak bisa dinilai dengan uang.
Di film tersebut juga menggambarkan
bagaimana kehidupan kota di Indonesia, dan aku pikir salah satunya yaitu di
Jakarta. Tidak mudah hidup di kota. Kota menawarkan seribu pilihan, jadi orang
yang baik atau bukan. Betapa hiruk pikuknya perkotaan, kemacetan kendaraan yang
tak akan pernah berhenti. Sesaknya suasana pasar, dan tak lupa pun, dengan
pencopet.
Pendidikan itu penting. Meskipun
begitu, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan, mereka yang telah belajar
mengaji, tahu ilmu agama, tahu ilmu sholat, tahu bahkan hafal di luar kepala
pancasila dan pembukaan UUD 1945 tidak menutup kemungkinan untuk berpotensi
menjadi orang yang berkelakuan menyimpang, menajadi pencuri, pencopet bahkan
koruptor sekaligus. Intinya adalah ilmu dan iman itu tidak bisa dipisahkan.
Keduanya saling melengkapi dan penting. Itulah Indonesia.
23.25
PM Surabaya.
Semangat menulis, kawan !!!