Haruskah aku
membuatkannya sebuah judul?
Pagi ini,sepertinya bunga-bunga . Kukayuh sepedaku dengan
mantap.Kutebarkan senyum kepada setiap orang yang kutemui di jalan, meskipun
tidak semuanya kukenal. Aku pikir, bukankah sebuah senyuman itu layaknya penyakit
batuk yang mudah menular? Yeah, meskipun
tidak semua orang menyadari setidaknya aku sudah melakukan satu hal yang baik
hari ini. Aku menyusuri gang-gang kecil namun padat akan kendaraan yang lalu
lalang. Aku melewati gang dimana bengkel itu berada, dan kulihat Bapak Bengkel
sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. “Selamat pagi, Sir !” aku
terkejut menyadari begitu kerasnya sapaanku sehingga orang-orang disekitar
menoleh menatapku. Tapi aku tidak peduli, karena Bapak Bengkel itu membalasnya
dengan keras pula. “Selamat pagi, Nona!”
Aku terus mengayuh pedal sepedaku hingga aku bertemu dengan temanku
yang sedang duduk di atas jok sepeda motor memainkan ponselnya. “Halo Oktaaa”
aku menyapa dengan keras, tetapi tidak sekeras saat aku menyapa Bapak Bengkel
tadi. Dan kau tahu, bagaimana reaksinya? Dia hanya menjawab “Iya” dengan lesu.
Oh, apa yang terjadi padamu Okta? Bukankah kau sedang menunggu kekasihmu
seperti biasanya? Bukankah seharusnya itu momen yang sangat ditunggu-tunggu?Aku
hanya berpikir, kekasih macam apa yang rela membuat perempuan menunggu? Aku
sering melihatnya di tempat yang sama dengan model kerudung yang sama – oh, ini
tidak penting – dan di waktu yang sama. Sepagi ini. Aku terus bicara sendiri
mengenai Okta dan kekasihnya sampai-sampai aku hampir tertabrak sepeda motor
yang melaju dari arah yang berlawanan. Sebenarnya ke mana tujuanku pagi ini?
Tenanglah, perjalananku belum usai, aku akan menemui si Tiang Listrik itu, jadi
biarkanlah aku (masih) menikmati perjalananku.
Bersambung.
Surabaya, 18 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar