Kamis, 21 Januari 2016

Cerita dari Hujan


Aku percaya bahwa hujan selalu memberikan kenangan yang tak terlupakan kepada setiap orang. Entah saat sendirian di rumah dengan suasana hujan yang mengerikan, ketika kelas telah usai dan kau mendapati hujan turun di sekolah sedangkan kau tidak membawa jas hujan sehingga terpaksa menunggu hujan reda, atau ketika kau sedang dalam perjalanan dan singgah di suatu tempat untuk menunggu hujan berhenti, atau pun cinta seorang petani yang rela pulang dalam keadaan basah kuyup dari sawah. Semuanya pasti punya cerita tentang hujan. Tentang nikmat Allah yang berasal dari langit.
Aku teringat dengan dengan kenanganku dengan hujan dulu saat duduk di bangku SD. Dulu waktu aku kelas empat, aku lebih pemberani daripada aku saat kelas enam. Suka dengan tantangan. Tidak takut dengan hal-hal baru.
Saat itu ceritanya, aku, Dik Umi, dan Ria bersepeda dengan sepeda masing-masing pergi ke tempat fotokopi di tentangga desaku. Dulu, saat zamanku masih SD, tempat fotokopi ataupun warnet belum ada di desaku. Meskipun sampai sekarang pun sebenarnya masih sangat jarang juga. Jadi, kalaupun ada tugas untuk mengopi buku, ataupun mencari bahan-bahan untuk kerajinan terpaksa harus ke desa lain untuk mendapatkannya.
Saat kami hendak pulang sudah nampak dari kejauhan awan menghitam, angin telah menggoyang-goyangkan pepohonan, menjatuhkan dedaunan di sepinggir jalan, dan membikin manusia serba cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kami pun dengan cepat mengayuh sepeda supaya segera sampai rumah terhindar dari hujan. Tapi Allah berkehendak lain, di tengah jalan tiba-tiba air dengan keras menghujam tubuh kami. Kami pun menepi di bawah pohon mangga. Begitu deras hujan saat itu, dan petir sesekali menyambar dengan berpindah-pindah tempat. Kalau kami memutuskan untuk lanjut mengayuh sepeda dan menerobos hujan, ketika sampai rumah pasti kami akan kena damprat dari orang tua masing-masing. Lebihnya, Ria, yang lebih muda satu tahun dariku dan Dik Umi, sangat takut dan menangis ketika mendengar petir menggelegar di angkasa. Jadi kami putuskan untuk singgah di rumah sederhana yang tak jauh dari pohon mangga pinggir jalan.
Syukurlah, pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri yang ramah. Kami disambut sangat ramah oleh mereka. Kami pun dibuatkan teh dan disuguhi makanan kecil yang cukup menghibur kami. Mereka memberi nasehat kalau hujan sedang turun sedangkan masih dalam perjalanan, lebih baik bersinggah di suatu tempat demi alasan keamanan. Jangan takut untuk berhenti di rumah orang. Selagi kita tidak melakukan kesalahan, kenapa harus takut?
Hujan semakin deras dan petir semakin sering muncul, Ria pun masih saja menangis karena ketakutan. Dia takut kalau hujan akan terus-terusan dan tidak bisa pulang bertemu ibunya. Aku, Dik Umi, dan sepasang suami istri itu menenangkannya supaya berhenti menangis. Untuk menghiburnya, sang suami bercerita banyak hal bahkan dia juga memberikan lelucon supaya kami tertawa. Sejenak melupakan derasnya hujan saat itu. Dia juga memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar pelajaran. Ternyata, dia dalah seorang guru di salah satu sekolah dasar di daerahku.
Tak terasa waktu telah berjalan cepat. Tanpa kami sadari, hujan telah reda. Menyisakan rintik-rintik kecil. Kami pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih sudah menerima kami. Terima kasih atas cerita dan pelajaran yang telah diberikan. Lantas, kami pun mengayuh sepeda kami dengan cepat menuju rumah masing-masing.
Keesokan harinya saat di sekolah, aku bertemu dengan Dik Umi yang satu kelas denganku. Bertanya apakah dia dimarahi oleh Bapaknya gara-gara kejadian kemarin sore. Dik Umi mengiyakan pertanyaanku. Begitu pun dengan Ria. Berbeda dengan mereka, Bapakku tidak marah sekali pun denganku. Karena aku ceritakan semuanya ke Bapak. Bapak malah bangga padaku. Itu adalah keputusan yang tepat, disaat kita tengah terjepit jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada orang lain. Bagusnya, kita telah menjalin persaudaraan dengan mereka, menambah pegalaman dan memberikan pelajaran yang tak ternilai harganya.
Sejak saat itu, setiap di jalan dan melintas di depan rumah sepasang suami itu aku selalu tersenyum. Berkata dalam hati, terima kasih atas pengalaman saat itu. Sampai saat sekarang pun aku belum mampir ke rumahnya. Entahlah, mereka masih mengingatnya atau tidak, karena kini mereka telah beranjak di masa tua. Yang jelas, aku akan selalu mengingatnya dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Bukankah, Allah selalu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan?

Palur, Kebonsari, Madiun 2004.