Aku percaya bahwa hujan selalu memberikan kenangan yang tak
terlupakan kepada setiap orang. Entah saat sendirian di rumah dengan suasana
hujan yang mengerikan, ketika kelas telah usai dan kau mendapati hujan turun di
sekolah sedangkan kau tidak membawa jas hujan sehingga terpaksa menunggu hujan
reda, atau ketika kau sedang dalam perjalanan dan singgah di suatu tempat untuk
menunggu hujan berhenti, atau pun cinta seorang petani yang rela pulang dalam
keadaan basah kuyup dari sawah. Semuanya pasti punya cerita tentang hujan.
Tentang nikmat Allah yang berasal dari langit.
Aku teringat dengan dengan kenanganku dengan hujan dulu saat duduk
di bangku SD. Dulu waktu aku kelas empat, aku lebih pemberani daripada aku saat
kelas enam. Suka dengan tantangan. Tidak takut dengan hal-hal baru.
Saat itu ceritanya, aku, Dik Umi, dan Ria bersepeda dengan sepeda
masing-masing pergi ke tempat fotokopi di tentangga desaku. Dulu, saat zamanku
masih SD, tempat fotokopi ataupun warnet belum ada di desaku. Meskipun sampai
sekarang pun sebenarnya masih sangat jarang juga. Jadi, kalaupun ada tugas
untuk mengopi buku, ataupun mencari bahan-bahan untuk kerajinan terpaksa harus
ke desa lain untuk mendapatkannya.
Saat kami hendak pulang sudah nampak dari kejauhan awan menghitam,
angin telah menggoyang-goyangkan pepohonan, menjatuhkan dedaunan di sepinggir
jalan, dan membikin manusia serba cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kami
pun dengan cepat mengayuh sepeda supaya segera sampai rumah terhindar dari
hujan. Tapi Allah berkehendak lain, di tengah jalan tiba-tiba air dengan keras
menghujam tubuh kami. Kami pun menepi di bawah pohon mangga. Begitu deras hujan
saat itu, dan petir sesekali menyambar dengan berpindah-pindah tempat. Kalau
kami memutuskan untuk lanjut mengayuh sepeda dan menerobos hujan, ketika sampai
rumah pasti kami akan kena damprat dari orang tua masing-masing. Lebihnya, Ria,
yang lebih muda satu tahun dariku dan Dik Umi, sangat takut dan menangis ketika
mendengar petir menggelegar di angkasa. Jadi kami putuskan untuk singgah di
rumah sederhana yang tak jauh dari pohon mangga pinggir jalan.
Syukurlah, pemilik rumah itu adalah sepasang suami istri yang ramah.
Kami disambut sangat ramah oleh mereka. Kami pun dibuatkan teh dan disuguhi
makanan kecil yang cukup menghibur kami. Mereka memberi nasehat kalau hujan
sedang turun sedangkan masih dalam perjalanan, lebih baik bersinggah di suatu
tempat demi alasan keamanan. Jangan takut untuk berhenti di rumah orang. Selagi
kita tidak melakukan kesalahan, kenapa harus takut?
Hujan semakin deras dan petir semakin sering muncul, Ria pun masih
saja menangis karena ketakutan. Dia takut kalau hujan akan terus-terusan dan
tidak bisa pulang bertemu ibunya. Aku, Dik Umi, dan sepasang suami istri itu
menenangkannya supaya berhenti menangis. Untuk menghiburnya, sang suami
bercerita banyak hal bahkan dia juga memberikan lelucon supaya kami tertawa.
Sejenak melupakan derasnya hujan saat itu. Dia juga memberikan
pertanyaan-pertanyaan seputar pelajaran. Ternyata, dia dalah seorang guru di
salah satu sekolah dasar di daerahku.
Tak terasa waktu telah berjalan cepat. Tanpa kami sadari, hujan
telah reda. Menyisakan rintik-rintik kecil. Kami pun berpamitan dan mengucapkan
terima kasih sudah menerima kami. Terima kasih atas cerita dan pelajaran yang
telah diberikan. Lantas, kami pun mengayuh sepeda kami dengan cepat menuju
rumah masing-masing.
Keesokan harinya saat di sekolah, aku bertemu dengan Dik Umi yang
satu kelas denganku. Bertanya apakah dia dimarahi oleh Bapaknya gara-gara
kejadian kemarin sore. Dik Umi mengiyakan pertanyaanku. Begitu pun dengan Ria.
Berbeda dengan mereka, Bapakku tidak marah sekali pun denganku. Karena aku
ceritakan semuanya ke Bapak. Bapak malah bangga padaku. Itu adalah keputusan
yang tepat, disaat kita tengah terjepit jangan sungkan untuk meminta bantuan
kepada orang lain. Bagusnya, kita telah menjalin persaudaraan dengan mereka,
menambah pegalaman dan memberikan pelajaran yang tak ternilai harganya.
Sejak saat itu, setiap di jalan dan melintas di depan rumah sepasang
suami itu aku selalu tersenyum. Berkata dalam hati, terima kasih atas
pengalaman saat itu. Sampai saat sekarang pun aku belum mampir ke rumahnya.
Entahlah, mereka masih mengingatnya atau tidak, karena kini mereka telah
beranjak di masa tua. Yang jelas, aku akan selalu mengingatnya dan mendoakan
kebaikan untuk mereka. Bukankah, Allah selalu bersama orang-orang yang berbuat
kebaikan?
Palur, Kebonsari, Madiun 2004.