Selasa, 02 Juni 2015

Dear Sora,


Sabtu, 27 Desember 2014
            Sejak sore tadi langit mendung masih menaungi langit kota Surabaya, akankah hari ini akan hujan lagi? Seperti hari-hari sebelumnya, Kota Surabaya diguyur oleh tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit itu. Siang terasa sangat panas. Meskipun langit gelap dan hawa panas memburu kami dalam setiap aktivitas, namun pada kenyataannya tetesan-tetesan air dari langit itu tak kunjung tiba sampai malam ini. Yang kudengar hanya suara gemericik tetesan air kecil yang ribut menimpa genteng-genteng bangunan gedung di samping asrama.
            Kurang lebih dua belas jam yang lalu dan hari-hari sebelumnya, canda tawa, suara ejekan, suara keluhan karena kelaparan, dan semuanya terekam jelas oleh fikiranku dan kamar ini menjadi saksi bisu semua itu. Ya, Nada, Ikrima, dan Mariya telah kembali ke rumah masing-masing. Menikmati liburan Ujian Semester Ganjil tahun ini. Sementara aku masih setia dengan kamar 31 ini. Sebenarnya ada hal penting yang harus aku selesaikan besok Senin disini, dan karena telah aku pertimbangkan matang-matang aku memutuskan untuk tinggal di asrama sampai hari Selasa depan.
            Tak terasa, empat bulan sudah aku di Surabaya. Meskipun terkadang perlu bolak balik Surabaya-Madiun sebagai pelipur rindu akan kampung halamanku tercinta dan tentunya kelurga kecilku yang menanti kedatanganku, itu semua tak menjadi masalah bagiku. Semuanya, mulai dari kegiatan di asrama, proses kuliah, kegiatan di luar kampus, petualanganku menjajaki dunia Wonocolo dan sekitarnya, dan bahkan bagaimana diriku beradaptasi dengan kehidupan baru disini, akan menjadi hal tersendiri buatku. Aku tidak ingin melupakannya dan tidak ingin semuanya berlalu begitu saja. Maka dari itu, aku ingin semua itu terukir jelas dan abadi dalam pikirku dan tulisanku.
            Sebenarnya, aku tahu aku jarang menuliskan hari-hari yang telah aku lalui di buku harianku. Aku menyesal, aku ingin berubah, aku pun berubah dan mengulanginya lagi. Seperti itu seterusnya. Sungguh cerobohnya diriku, betapa tidak disiplinnya diriku. Tapi buat apa aku menyalahkan terus diriku, lebih baik aku mulai sekarang benar-benar take action. Please, aku tahu aku bisa, aku tahu aku memiliki kemampuan yang lebih tentang hal kepenulisan. So, aku yakin aku bias asalkan aku sungguh-sungguh dan yakin. Just believe it if I can do it, go for that things I want, keep on it. Yes I can.
           
            Entah dari mana munculnya ide itu, tiba-tiba terpikir olehku untuk menuliskan apa yang telah aku tonton. Karena aku suka nonton film, aku banyak mendapatkan pelajaran dari film-film yang aku tonton. Aku percaya, setiap film atau apapun itu pasti ada misi yang ingin diutarakan meskipun itu secara tersirat maupun secara tersurat. Sebagai bentuk rasa syukur juga, dengan benda di tanganku ini, aku ingin menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat buatku. Aku tidak ingin karena benda ini aku malah terlena dengan dunia, lupa akan mimpi-mimpiku selama ini, menjadi penulis. Ini akan jadi alat untukku, untuk belajar menulis dengan cara rutin aku menulis pengalamanku disini. Dan bisa juga sebagai sarana untuk mengembangkan bahasa inggrisku, menjadi mahasiswa yang seutuhnya dan membanggakan semua orang yang pernah mengenalku dan kusayangi.
            Malam minggu ini, meskipun tidak semua penghuni asrama pulang suasana asrama sepi karena memang tidak banyak yang masih tinggal di asrama, termasuk aku. Malam minggu ini kuhabiskan waktuku untuk menonton film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Langsung saja, karena sudah larut dan karena besok aku ada janji dengan Tyo untuk bersepeda bareng ke Taman Bungkul jam lima pagi, maka aku harus bangun pagi-pagi, tanpa panjang, lebar, kali tinggi soalnya kalau disimpulkan jadi volume benda ruang balok. Dah ah, to the point, dari film itu aku dapat pelajaran bahwa meskipun kita kuliah, menempuh pendidikan selama empat tahun demi menggaet gelar sarjana, itu semua tak kan berarti di mata masyarakat kalau kita tak punya pekerjaan alias menganggur. Karena salah satu tujuan kita mendapatkan gelar sarjana adalah untuk sebuah pekerjaan dan pekerjaan mengantarkan kita menuju kehidupan kita yang lebih baik. Karena pekerjaan bisa menghasilkan uang dan uang akan mencukupinya. Tapi, tentu saja semuanya tidak bisa dinilai dengan uang.
            Di film tersebut juga menggambarkan bagaimana kehidupan kota di Indonesia, dan aku pikir salah satunya yaitu di Jakarta. Tidak mudah hidup di kota. Kota menawarkan seribu pilihan, jadi orang yang baik atau bukan. Betapa hiruk pikuknya perkotaan, kemacetan kendaraan yang tak akan pernah berhenti. Sesaknya suasana pasar, dan tak lupa pun, dengan pencopet.
            Pendidikan itu penting. Meskipun begitu, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan, mereka yang telah belajar mengaji, tahu ilmu agama, tahu ilmu sholat, tahu bahkan hafal di luar kepala pancasila dan pembukaan UUD 1945 tidak menutup kemungkinan untuk berpotensi menjadi orang yang berkelakuan menyimpang, menajadi pencuri, pencopet bahkan koruptor sekaligus. Intinya adalah ilmu dan iman itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan penting. Itulah Indonesia.
23.25 PM Surabaya.
Semangat menulis, kawan !!!

1 komentar:

  1. lanjutkan mimpimu dengan tulisan2 mu yang dapat menginspirasi siapa saja yang membacanya.
    semoga tulisanmu kelak menjadikan infestasi amal bagimu.

    BalasHapus